Hukum “aliran barang” mengatakan bahwa jumlah barang yang dialirkan sebagai penyedia, yang dipasok atau supply harus seimbang dengan jumlah barang yang dibutuhkan atau diterima oleh yang membutuhkan. Maka inilah yang disebut dengan hukum keseimbangan “supply – demand”. Sebenarnya hukum “suppay – demand” ini berlaku pada bidang apa saja. Pada bidang lingkungan biasa disebut dengan “homoestasis”, yaitu hukum keseimbangan antara barang yang diterima oleh organisme dari lingkungannya baik biotik maupun abiotik, maka ini juga disebut dengan konsep ekologi. Konsep ekologi dan keseimbangan antara pasok dan kebutuhan ini juga sangat kental sebagai hukum dasar dalam pengembangan perunggasan, dan sangat patut dicermati dan ditaati aturannya khususnya di Indonesia yang saat ini lagi dilanda berbagai masalah ketidak seimbangan “supply – demand” ini. Apa yang terjadi? Kalau supply jauh lebih sedikit atau di bawah angka yang dibutuhkan oleh konsumen, maka dikatakan kekurangan barang, berlanjut kepada kelangkaan, yang lebih parah akan menjadi barang yang dijadikan “rebutan” oleh para konsumen. Dalam kondisi seperti ini maka harga akan cepat sekali melambung tinggi. Ada yang berfikir, wah ini berarti menguntungkan perternak karena harga jual ayam hidup semakin tinggi pula. Hal ini bisa dijawab “ya” atau “tidak”. Memang dunia perunggasan merupakan dunia yang agak rumit, dan sering misterius. Alasannya, karena perunggasan ini adalah “seksi” merupakan komoditas yang dikatakan sudah memasuki dunia industri, sementara pelakunya sangat bervariasi mulai dari tingkat peternak kalangan rendah, menengah sampai kepada peternak atau skala industri tingkat tinggi. Itu tadi kalau supply barang perunggasan berada pada kekurangan. Bagaimana sebaliknya kalau “supply” barang jauh melebihi kebutuhan yang diperlukan konsumen? Jawabannya sudah bisa ditebak ”barang melimpah”, pembeli tidak mampu menyerap barang yang disediakan. Pasti akan menjadi petaka bagi dunia perunggasan. Kenapa? Karena produk perunggasan sebagian besar tidak bisa bertahan lama dalam kondisi alam biasa. Ini salah satu faktor penting yang menyebabkan nilai tawar produk peternakan unggas menjadi rendah. Ambil contoh ayam hidup yang harus dipanen dan dijual oleh peternak. Peternak biasanya sudah menjadwal kapan ayamnya akan dipanen dan dikosongkan dari kandang. Di saat sudah ada jadwal untuk dipanen, maka sudah diperhitungkan berbagai hal. Pertama, jumlah pakan yang akan diberikan sudah dihitung sesuai dengan kebutuhan. Misalnya ayam terlambat dipanen 2 – 3 hari saja, maka peternak harus memberikan pakan tambahan yang jumlahnya tidak sedikit dan ini akan mengganggu kesetabilan keuangan peternak. Untuk peternak yang dananya pas-pasan bisa jadi harus pontang-panting mencari dana talangan atau bisa juga secara terpaksa menghutang lagi pakan diluar perhitungan awal. Kedua, jatuh tempo pembayaran angsuran hutang sarana produksi yang bisanya tenggang waktu sudah ditentukan misalnya 1 bulan, bisa jadi molor. Dan ini pasti akan mengganggu keuangan peternak dan juga meresahkan para peternak. Ketiga, prediksi harga bisa jadi berubah, yang tadinya punya posisi tawar tinggi langsung turun drastis dikarenakan barang tidak bisa disimpan dan bahkan masih harus memberikan biaya pakan setiap hari. Akibatnya, bisa-bisa melemah di posisi tawar harga dan seringkali tidak terkendali sesuai dengan harapan. Keempat, perencanaan kandang bisa jadi berubah. Mestinya kandang sudah segera dibersihkan untuk disiapkan pemeliharaan periode berikutnya menjadi terhambat. Pun juga, bila kandang sebelahnya ada DOC yang dimasukkan, maka keamanan bisa terganggu. Kelebihan pasok atau over supply DOC pada skala luas misalnya di wilayah atau daerah dan bahkan nasional bukan skala peternak berakibat sangat fatal. Akibat ini bisa terhadap dua sisi. Pada sisi produsen DOC dan pada sisi peternak hilir atau final stock. Pada peternak hilir disebut juga sebagai perusahaan pembibitan. Over supply pastinya terjadi akibat dua hal pula. Pertama, perhitungan kebutuhan DOC yang direfleksikan dengan prediksi tingkat konsumi oleh masyarakat atau jumlah produk yang diekspor baik dalam bentuk DOC maupun dalam hasil panen broiler, dan kedua, kemungkinan adanya terjadi dinamika dan penurunan konsumsi dan nilai beli masyarakat yang menurun, sehingga barang produk hasil broiler melimpah di masyarakat. Obsesi yang berlebihan perusahaan pembibitan untuk mengembangkan usahanya menyebabkan over estimate sehingga produksi DOC berlebihan. Produksi DOC pastinya tidak begitu saja muncul, namun melalui suatu perhitungan prediksi yang panjang dan rumit. Namun yang jelas telah melalui perencanaan matang yang melibatkan pengadaan atau impor GPS untuk menghasilkan PS. Ini melibatkan banyak aspek seperti lahan, perkandangan, pakan, tenaga kerja, obat-obatan, penetasan dan tenaga pemasaran. Sehingga bisa dikatangan adanya oversupply atau kelebihan pasok DOC berdampak fatal juga bagi perusahaan, karena harus berupaya keras menekan atau mengurangi produksi yang sebenarnya tidak bisa dikurangi atau tidak bisa ditekan. Kenapa? Karena mesin GPS dan PS adalah “mesin bilogis” yang tidak bisa dihentikan proses produksinya. Pasti berbeda dengan mesin-mesin di pabrik barang-barang non-biologis seperti pabrik mobil, atau barang-barang elektronik yang setiap saat bisa dihentikan tanpa berpengaruh terhadap rusaknya barang. Pada kenyataannya, kondisi tersebut over supply terlihat sangat mengerikan. Lantas bagaimana seandainya kondisi “over supply” sudah benar-benar terjadi? Berbagai strategi nyatanya juga dikonsep dan bahkan sudah diimplementasikan di dunia perbibitan Indonesia yang sejak beberapa tahun lalu sampai hari ini mengalami problematika kondisi “over supply”. Suatu dilematik untk mengambil kebijakan. Mau dibiarkan akan memberikan dampak melesunya usaha peternakan dan berakibat pada meruginya peternak, mau dilakukan pengurangan dengan memotong PS atau menghancurkan telur tetas yang sudah dieramkan/inkubasi juga sangat tidak manusiawi dan berperikehewanan. Maka langkah yang diambil oleh Pemerintah adalah dengan mendiskusikan bersama dengan para pengusaha, dan akhirnya diperoleh kesepakatan untuk melakukan “cutting” dan “aborsi”. Istilah “cutting” digunakan untuk mengafkir dini induk PS yang berumur lebih dari 50 minggu di awal dulu pada tahun 2015 di atas 70 minggu, sedangkan istilah “aborsi” adalah melakukan penghentian proses perkembangan embrio ayam yang sudah dieramkan dalam mesin penetas inkubasi pada umur tertentu, bisa sampai dengan umur 19 hari. Sementara, di tingkat peternak terus dilakukan pestabilan harga ayam panen kandang dalam keadaan hidup atau disebut “live bird” LB. Meskipun belum berjalan normal, namun perlahan sudah mulai ada hasilnya. Para peternak rakyat harus mengencangkan ikat pinggang agar bisa bertahan melampau masa prihatin ini. Ini adalah periode transisi yang mencekam bagi para peternak rakyat. Karena mereka setiap hari selalu dihantui rasa was-was mengenai harga ayam hidup panen kandang LB untuk hari esok. Maka wajarlah kalau banyak kalangan melemparkan pertanyaan “gonjang-ganjing perunggasan, masih bisakah diselamatkan?”. Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, tidak bisa ditulis dalam 1 kali tulisan saja, namun masih harus dikaji beberapa aspek seperti pengaruh “keseimbangan terhadap harga”, “aspek-aspek pendukung keseimbangan”, “beberapa skenario strategi yang harus direncanakan dan diimplementasikan ke depan” untuk menjamin sistem peternakan unggas dalam negeri yang menguntungkan dan berkelanjutan, serta “telaah kritis terhadap peraturan perunggasan”. bersambung…. Prof Dr H Suyadi, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya
Hot news >> Di dalam ilmu ekonomi, ada yang disebut sebagai permintaan demand dan kurva permintaan curve demand. Lalu, apa itu kurva permintaan? Bagaimana hukum permintaan law of demand? Pada kesempatan ini, invesnesia akan berfokus untuk menyajikan materi atau makalah kurva permintaan. Namun sebelum itu, ada baiknya kamu mengenal secara singkat apa itu demand. Contents1 Pengertian Permintaan Demand2 Apa Itu Kurva Permintaan?3 Contoh Kurva Permintaan4 Hukum dan Kurva Permintaan5 Faktor yang Memengaruhi Permintaan Demand 1. Harga Produk Price of The Product 2. Pendapatan Konsumen The Consumer’s Income 3. Harga Barang Terkait The Price of Related Goods 4. Selera atau Preferensi 5. Ekspektasi 6. Jumlah Konsumen di Pasar6 Kenapa Kurva Permintaan Miring ke Bawah? Pengertian Permintaan Demand Dalam ilmu ekonomi, permintaan atau demand adalah suatu keinginan dari konsumen untuk memiliki suatu barang yang didukung oleh kecukupan uang untuk membayar barang yang diminta. Jadi, di dalam ekonomi, yang paling utama adalah permintaan yang efektif effective demand – keinginan untuk membeli produk yang diikuti oleh kemampuan finansial untuk membelinya. Contoh, kamu ingin membeli mobil, maka kamu harus memiliki cukup uang untuk setidaknya menyediakan uang muka atau down payment DP jika membayar secara kredit. Pembahasan lebih lengkap tentang permintaan demand, silakan baca di sini Materi tentang Demand. Apa Itu Kurva Permintaan? Permintaan sering kali diilustrasikan menggunakan grafik yang dikenal sebagai kurva permintaan atau curve demand. Pengertian kurva permintaan adalah representasi grafis dari hubungan antara harga barang atau jasa dan kuantitas yang diminta untuk periode waktu tertentu. Dalam representasi tipikal, harga akan muncul di sumbu vertikal kiri, sedangkan kuantitas yang diminta berada pada sumbu horizontal. Contoh Kurva Permintaan Berikut ini adalah contoh kurva permintaan bulanan dari seorang wanita cantik bernama Kekeyi untuk pembelian pizza beku. Perhatikan bahwa kurva permintaan dapat dibaca di kedua arah. Artinya, selain menunjukkan berapa banyak pizza beku yang akan dibeli Kekeyi per bulan dengan harga tertentu. Kurva permintaan tersebut juga menunjukkan seberapa banyak Kekeyi akan bersedia membayar per pizza untuk sejumlah pizza tertentu. Contoh, Kekeyi bersedia membayar $ 4 per pizza untuk 4 pizza per bulan. Selain membuat grafik kurva permintaan individu untuk suatu barang, kamu juga bisa membuat grafik kurva permintaan pasar untuk suatu barang. Tujuannya yaitu untuk melihat seberapa banyak barang yang akan dibeli secara kolektif oleh setiap orang pada setiap harga satuan. Permintaan pasar market demand untuk suatu barang hanyalah agregat atau jumlah dari permintaan setiap konsumen untuk barang itu. Hukum dan Kurva Permintaan Hukum dan kurva permintaan adalah salah satu elemen penting di dalam ilmu ekonomi. Hukum permintaan mengungkapkan hubungan fungsional antara harga dan kuantitas yang diminta suatu barang sehingga ini akan berdampak pada kurva permintaan. Menurut hukum permintaan, hal-hal lain akan dianggap tetap atau konstan ceteris paribus. Misalnya, jika harga suatu komoditas turun, kuantitas yang diminta akan naik dan, jika harga barang naik, kuantitas yang diminta akan turun, cateris paribus. Jadi, ada hubungan terbalik antara harga dan kuantitas yang diminta. Contoh, Kekeyi membeli lebih banyak unit apel ketika harganya turun dari $ 4 per unit ke $ 2 per unit. Sebagai tambahan, hukum permintaan hanya berlaku jika kondisi tertentu terpenuhi. Asumsi hukum permintaan yaitu sebagai berikut Pendapatan konsumen tidak berubah. Jika pendapatan konsumen meningkat atau menurun, hukum tidak akan berlaku. Selera dan preferensi orang tetap tidak berubah; dan Harga pengganti dan pelengkap tidak berubah. Hukum permintaan dapat dijelaskan dengan bantuan jadwal permintaan dan melalui kurva permintaan. Jadwal permintaan ditunjukkan seperti di bawah. Terlihat pada tabel bahwa bila harga komoditas apel adalah $ 8 per unit, konsumen hanya membeli 5 unit. Namun, bila harga apel $ 2 per unit, konsumen akan membeli 10 unit komoditas. Jadi, saat harga turun, konsumen membeli lebih banyak komoditas dan sebaliknya. Lalu bagaimana bentuk contoh kurva permintaan dari komoditas apel tersebut? Coba perhatikan kurva permintaan apel di atas. Di sepanjang sumbu x, kuantitas diukur dan harga komoditas di sepanjang sumbu y diukur. Dengan menggabungkan berbagai titik atau kombinasi harga dan kuantitas yang diminta, diperoleh kurva dd’ yang turun dari kiri ke kanan. Penarikan inilah yang disebut sebagai kurva permintaan. Kurva permintaan dengan jelas menunjukkan bahwa harga berbanding terbalik dengan kuantitas yang diminta. Saat harga turun, permintaan naik dan menyusut saat harga komoditas naik. Perlu dicatat di sini bahwa asumsi “faktor yang menentukan permintaan barang” bersifat konstan atau cateris paribus. Pertanyaan selanjutnya, apa saja faktor-faktor memengaruhi permintaan demand? Faktor yang Memengaruhi Permintaan Demand Pergeseran dalam kurva permintaan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berikut ini beberapa faktor yang memengaruhi permintaan suatu barang. 1. Harga Produk Price of The Product Ada hubungan terbalik negatif antara harga suatu produk dan jumlah produk yang dapat dibeli oleh konsumen. Konsumen ingin membeli lebih banyak produk dengan harga rendah dan membeli lebih sedikit produk dengan harga tinggi. Hubungan terbalik antara harga dan jumlah konsumen yang mau dan mampu membeli ini sering disebut sebagai The Law of Demand. 2. Pendapatan Konsumen The Consumer’s Income Pengaruh pendapatan terhadap jumlah produk yang dapat dibeli oleh konsumen bergantung pada jenis barang tertentu. Untuk sebagian besar barang, ada hubungan positif langsung antara pendapatan konsumen dan jumlah barang yang mampu dibeli. Dengan kata lain, untuk barang-barang ini ketika pendapatan meningkat, permintaan akan produk tersebut akan meningkat; ketika pendapatan turun, permintaan produk akan menurun. Istilah pada barang jenis ini disebut sebagai barang normal normal goods. Namun, untuk beberapa barang, pengaruh perubahan pendapatan malah bersifat sebaliknya. Dengan kata lain, ketika pendapatan meningkat, kamu justru tidak membeli barang yang biasa dibeli ketika pendapatan belum meningkat. Sebagai contoh, ketika pendapatan kamu Rp 3 juta per bulan, kamu akan membeli ayam goreng pinggir jalan. Ketika pendapatan kamu naik menjadi Rp 6 juta per bulan, kamu tidak lagi mau beli ayam goreng pinggiran, dan malah membeli ayam KFC. Jika ini masalahnya ketika pendapatan naik, kamu bersedia membeli produk yang lebih berkualitas, maka akan ada hubungan terbalik antara pendapatan dan permintaan untuk jenis produk tersebut. Nah, barang jenis ini dapat disebut sebagai barang inferior inferior good. Istilah inferior di dalam ilmu ekonomi hanya berarti bahwa ada hubungan terbalik antara pendapatan seseorang dan permintaan akan barang itu. Juga, apakah barang itu normal atau inferior mungkin berbeda dari orang ke orang. Suatu produk mungkin merupakan barang normal untuk kamu, tetapi barang inferior untuk orang lain. Yang perlu digarisbawahi, barang inferior belum tentu barang berkualitas rendah. Mengenai pendapatan, efeknya terhadap jumlah yang bersedia dan mampu dibeli tergantung pada jenis barang yang dibicarakan. Pikirkan tentang dua barang yang biasanya dikonsumsi bersama, atau barang komplementer. Misalnya roti tawar dan meses. Jika harga roti tawar naik, hukum permintaan akan menjelaskan bahwa konsumen akan bersedia membeli lebih sedikit roti tawar. Tetapi jika konsumen menginginkan lebih sedikit roti tawar, penggunaan meses juga akan lebih sedikit karena biasanya digunakan secara bersamaan dengan roti tawar. Oleh karena itu, kenaikan harga roti tawar berarti konsumen akan mengurangi pembelian meses. Ketika dua barang menjadi komplemen, ada hubungan terbalik antara harga satu barang dan permintaan barang lainnya. Di sisi lain, beberapa barang dianggap sebagai barang substitusi satu sama lain konsumen tidak mengonsumsi keduanya secara bersamaan, tetapi memilih untuk mengonsumsi salah satu di antaranya. Sebagai contoh, untuk beberapa orang kopi dan teh adalah pengganti seperti halnya barang inferior, apa yang menjadi barang pengganti untuk satu orang belum tentu menjadi pengganti untuk orang lain. Jika harga kopi naik, teh mungkin relatif lebih menarik. Hukum permintaan menjelaskan bahwa lebih sedikit orang yang akan membeli kopi; beberapa orang mungkin memutuskan untuk beralih ke teh. Jadi, dapat dikatakan bahwa ketika dua barang menjadi substitusi, ada hubungan positif antara harga satu barang dan permintaan barang lainnya. 4. Selera atau Preferensi Konsumen Selera atau preferensi setiap konsumen pasti berbeda-beda. Ada yang suka manis, ada yang suka pedas, ada yang suka asin. Dengan kata lain, jenis barang ini bersifat tidak berwujud namun dapat berdampak besar pada permintaan demand. Namun, ada banyak hal yang dapat mengubah selera atau preferensi seseorang yang menyebabkan orang ingin membeli lebih banyak atau lebih sedikit suatu produk. Sebagai contoh, jika seorang selebriti mempromosikan produk kecap manis, hal ini dapat meningkatkan permintaan akan kecap manis tersebut. Di sisi lain, studi kesehatan baru saja keluar yang mengatakan bawah ada dampak buruk kecap manis bagi kesehatan. Hal ini dapat menurunkan permintaan produk. Contoh lain, seseorang mungkin memiliki permintaan payung lebih tinggi pada hari hujan daripada pada hari yang cerah. 5. Ekspektasi Konsumen Tidak hanya masalah apa yang sedang terjadi – ekspektasi seseorang untuk masa depan juga dapat memmengaruhi seberapa banyak produk yang ingin dan mampu dibeli. Misalnya, jika konsumen mendengar bahwa Apple akan segera memperkenalkan iPod baru yang memiliki lebih banyak memori dan masa pakai baterai lebih lama, konsumen mungkin memutuskan untuk menunggu untuk membeli iPod sampai produk baru keluar. Ketika orang-orang memutuskan untuk menunggu, mereka menurunkan permintaan iPod saat ini karena apa yang mereka harapkan akan terjadi di masa depan. Demikian pula, jika konsumen mengharapkan harga bensin naik besok, konsumen dapat mengisi bahan bakar kendaraan sekarang. Jadi, permintaan bensin hari ini akan meningkat karena apa yang diperkirakan akan terjadi besok. Di Indonesia misalnya, ketika ada isu harga BBM naik, orang-orang berbondong mengisi BBM dengan tambahan jerigen. 6. Jumlah Konsumen di Pasar Semakin banyak atau sedikit konsumen yang memasuki pasar, secara umum hal ini berdampak langsung pada jumlah produk yang dapat dibeli oleh konsumen. Sebagai contoh, warung Padang yang terletak di dekat Universitas akan memiliki lebih banyak permintaan sehingga penjualan lebih tinggi selama musim perkuliahan. Sedangkan bila libur semester tiba, siswa akan lebih banyak pulang kampung sehingga Universitas menjadi sepi. Hal ini akan berdampak pada permintaan produk warung Padang karena jumlah konsumen telah menurun secara signifikan. Kenapa Kurva Permintaan Miring ke Bawah? Pada dasarnya, ada tiga pendekatan atau alasan kenapa kurva permintaan bergerak miring ke bawah. Pertama, utilitas marjinal semakin berkurang. Singkatnya, utilitas marjinal marginal utility adalah tingkat kepuasan konsumsi yang diperoleh ketika meningkatkan jumlah konsumsi. Hukum marjinal menyatakan bahwa ketika konsumen meningkatkan konsumsi produk, utlitilas marjin akan berkurang. Contoh, kamu punya uang Rp 50 ribu dan ingin sekali makan bakso yang harganya Rp 10 ribu per bungkus. Kamu melakukan pembelian untuk satu bungkus. Ternyata, kamu belum kenyang dan ingin membeli lagi satu bungkus. Setelah memakan satu bungkus tambahan bakso, barulah merasa kenyang. Meskipun, kamu masih memiliki sisa uang Rp 30 ribu, tentu kamu akan berpikir untuk beli bakso lagi karena selain sudah kenyang, kenikmatan makan bakso juga akan berkurang. Alasan kedua, efek pendapatan. Diasumsikan ketika harga produk turun, maka pendapatan riil masyarakat akan meningkat. Kenapa? Karena dengan pendapataan saat ini, masyarakat bisa memperoleh lebih banyak produk ketika harganya turun. Sebaliknya, bila harga produk naik, pendapatan riil masyarakat akan turun karena masyarakat akan memperoleh jumlah produk yang lebih sedikit ketika harganya naik. Contoh, kamu memiliki gaji Rp 4 juta sebulan. Biasanya, kamu menghabiskan Rp 2 juta untuk biaya makan sebulan. Ternyata, harga bahan pokok naik, sehingga pendapatan riil kamu akan berkurang. Kenapa? Karena uang Rp 2 juta tidak lagi cukup untuk makan sebulan. Begitu sebaliknya, ketika harga bahan pokok turun, pendapatan riil akan meningkat karena dengan Rp 2 juta bisa untuk biaya makan lebih dari 1 bulan. Alasan terakhir, efek substitusi. Hal ini berkaitan dengan barang alternatif yang bersifat substitusi, yaitu barang yang memiliki kesamaaan manfaat dan utilitas. Misalnya, kopi dan teh. Jika harga kopi naik, orang akan lebih banyak membeli teh. Sebaliknya, jika harga kopi turun, orang akan lebih sedikit membeli teh dan membeli kopi lebih banyak. Efek substitusi hanya berlaku untuk barang normal dan tidak berlaku untuk barang Gifen. Simpulan Permintaan atau demand adalah tentang keinginan konsumen untuk memiliki suatu produk. Untuk menggambarkan permintaan, maka diilustrasikan dengan sebuah kurva permintaan, yaitu menjelaskan tentang hubungan antara suatu produk dan kuantitas yang diminta. Kurva permintaan sangat berkaitan dengan hukum permintaan yang menjelaskan bahwa bila harga produk naik, permintaan turun. Sebaliknya, bila haga barang turun, permintaan naik. Dengan asumsi, faktor-faktor yang memengaruhi permintaan bersifat konstan, atau cateris paribus. Jika faktor-faktor tidak terpenuhi, maka hukum permintaan tidak berlaku. Hot news >>
Indahyang disebut inflasi tarikanpermintaan (demand-pull inflation) karena permintaan agregat yang tinggi bertanggung jawab atas jenis inflasi ini. Pengangguran yang tinggi menarik tingkat inflasi ke bawah. adalah yang disebut sebagai model informasi tak sempurna (imperfect-information rnodeO. Tidak seperti kedua model sebelumnya, model
– Istilah inflasi tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita. Inflasi merupakan proses kenaikan harga barang secara terus-menerus yang nantinya akan memengaruhi daya beli masyarakat. Inflasi bisa saja timbul dari sisi penawaran, dari ekspektasi inflasi itu sendiri dan juga dari sisi permintaan yang sering juga disebut sebagai demand pull inflation. Berikut ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai inflasi yang muncul dari sisi permintaan atau demand pull inflation. Yuk, simak ulasannya di bawah ini. Mengenal Demand Pull Inflation Penyebab Demand Pull Inflation 1. Pertumbuhan ekonomi 2. Meningkatkan permintaan ekspor 3. Pengeluaran pemerintah 4. Ekspektasi inflasi 5. Lebih banyak uang dalam sistem Perbedaan Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation Contoh Demand Pull Inflation Mengenal Demand Pull Inflation Fenomena kenaikan harga terus-menerus disebut dengan inflasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, inflasi dapat timbul dari berbagai faktor. Selain dari sisi supply, ekspektasi inflasi, demand, terdapat beberapa faktor lainnya seperti peredaran uang yang berlebihan, kekacauan akibat konflik politik dan ekonomi, dan dorongan biaya. Nah, salah satu faktor yang menimbulkan inflasi adalah demand atau permintaan yang sering disebut sebagai demand pull inflation. Inflasi jenis ini muncul akibat adanya permintaan baik barang maupun jasa yang tinggi. Namun, meskipun permintaan suatu barang atau jasa tersebut sedang sangat tinggi, produsen juga harus mampu untuk dapat memenuhi semua permintaan yang sangat banyak tersebut. Permintaan yang tinggi berdampak pada harga yang juga biasanya diikuti oleh berkurangnya penawaran atau pasokan barang tersebut. Suatu kondisi ini biasanya digambarkan oleh para ekonom sebagai “terlalu banyak uang yang dimiliki untuk mengejar barang yang terlalu sedikit”. Ketika fenomena permintaan melebihi penawaran, maka yang terjadi adalah harga yang lebih tinggi. Di saat tingkat pengangguran yang rendah, inflasi juga dapat terjadi, karena lebih banyak orang yang memiliki pendapatan lebih banyak untuk dibelanjakan. Selain itu, peningkatan pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah juga baik lho untuk perekonomian, namun tindakan ini juga dapat menyebabkan kelangkaan beberapa barang yang nantinya akan menyebabkan inflasi. Penyebab Demand Pull Inflation Demand Pull Inflation pada umumnya menggambarkan fenomena yang meluas. Maksudnya, jika permintaan konsumen telah melebihi penawaran yang tersedia dari banyak jenis barang konsumsi, maka inflasi jenis ini yang akan terjadi dan akan memaksa peningkatan biaya hidup secara keseluruhan. Inflasi ini merupakan prinsip ekonomi Keynesian lho. Inflasi ini menggambarkan efek ketidakseimbangan yang terjadi dalam permintaan dan penawaran agregat. Saat permintaan agregat pada suatu perekonomian melebihi penawaran agregatnya, maka harga naik, dan inilah yang menjadi penyebab paling umum dari inflasi. Berikut ini adalah 5 hal yang menjadi penyebab demand pull inflation, yaitu 1. Pertumbuhan ekonomi Ketika konsumen sudah merasa percaya diri, mereka akan membelanjakan uang lebih banyak dan atau memilih berutang. Ini tentunya akan mengarah pada peningkatan permintaan yang stabil, yang memiliki arti bahwa harga akan lebih tinggi. 2. Meningkatkan permintaan ekspor Meningkatnya permintaan ekspor yang tiba-tiba akan memaksa penurunan kurs atau nilai mata uang. 3. Pengeluaran pemerintah Ketika pemerintah menambah atau membelanjakan yang menyebabkan pengeluaran pemerintah naik, maka harga akan cenderung naik. 4. Ekspektasi inflasi Perusahaan dapat saja sewaktu-waktu menaikkan harga barang yang dimiliki dengan ekspektasi inflasi dalam waktu dekat. 5. Lebih banyak uang dalam sistem Ekspansi jumlah uang beredar namun terlalu sedikit barang yang tersedia untuk dibeli akan membuat harga meningkat. Perbedaan Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation Demand pull inflation dan cost push inflation cenderung bergerak dengan cara atau suatu proses yang hampir sama namun, kedua jenis inflasi ini bekerja pada aspek sistem yang berbeda. Demand pull inflation menunjukkan penyebab kenaikan harga, sedangkan cost push inflation menunjukkan bagaimana inflasi, ketika sudah terjadi atau begitu dimulai, sulit untuk dihentikan. Cost push inflation terjadi ketika uang ditransfer dari satu sektor ekonomi ke sektor ekonomi lainnya, lho. Khususnya kenaikan biaya produksi seperti biaya bahan baku dan juga upah yang pasti akan dibebankan kepada konsumen dan dikemas dalam bentuk harga barang jadi yang lebih tinggi. Secara sederhana perbedaan antara demand pull inflation dan cost push inflation, yaitu demand pull inflation disebabkan oleh pertambahan permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa secara umum, yang tidak disertai dengan peningkatan penawaran akan barang dan jasa tersebut. sedangkan cost push inflation terjadi karena kenaikan harga faktor produksi yang menyebabkan pengeluaran produsen mengalami peningkatan sehingga menurunkan penawaran. Contoh Demand Pull Inflation Contoh demand pull inflation yang nyata kita alami beberapa waktu yang lalu adalah kenaikan harga masker yang awalnya murah, dan memiliki pasokan yang banyak. Namun saat virus Covid masuk ke Indonesia, harga masker yang biasanya berada di kisaran harga Rp500 atau per satuan menjadi atau bahkan per satuan dengan penawaran yang sangat terbatas. Inflasi yang terjadi dan tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian bagi para pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan dan juga akan menyulitkan kehidupan masyarakat. Inflasi yang tinggi dan tidak terkendali juga akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus mengalami penurunan sehingga standar hidup masyarakat juga turun dan pada akhirnya akan menjadikan semua orang terutama masyarakat miskin menjadi semakin miskin. Nah, berinvestasi adalah salah satu cara untuk mengatasi inflasi. Instrumen yang kamu pilih dapat berupa saham atau reksa dana sesuai profile risk kamu. Ajaib adalah aplikasi aman dan terpercaya dengan fitur yang lengkap dan membantu kamu berinvestasi dengan mudah dan informatif. Segera download aplikasi Ajaib di smartphone kesayanganmu, yah.
TeknologiInformasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Select one:
Pada materi berikut ini, kita akan belajar tentang hakikat permintaan demand dan penawaran supply, kurva permintaan dan penawaran, serta faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran. 1. KONSEP PERMINTAAN DAN KURVA Pengertian Permintaan. Pada hakikatnya, permintaan akan suatu barang merupakan jumlah barang yang diinginkan pembeli untuk dibeli/dimiliki. Dalam pemahaman tersebut, dikenal hukum permintaan, yakni jika semua unsur lain dianggap konstan, maka permintaan barang akan berkurang apabila terjadi kenaikan harga atas barang tersebut; demikian juga sebaliknya. Untuk membantu memahami pengertian diatas, dibuatlah kurva permintaan, yakni kombinasi yang menunjukkan hubungan antara harga suatu barang dengan kuantitas yang diinginkan. Kurva permintaan. Untuk mempermudah pemahaman, kita umpamakan permintaan donat oleh individu 1 John, seperti terlihat di Gambar 1. keterangan kombinasi antara harga dengan kuantitas donat yang ingin dibeli John tergambar di titik K 500, 0, L 300, 2, M 100, 4, dan N 0, 5. Berikutnya, kita akan melihat kurva permintaan individu 2 Doel atas donat Gambar 2..keterangan kombinasi antara harga dengan kuantitas donat yang ingin dibeli Doel tergambar di titik P 500, 0, Q 300, 1, R 100, 2, dan S 0, Sedangkan kurva permintaan pasar terbentuk dari jumlah seluruh permintaan individu, dalam contoh ini John dan Doel; sehingga kurva permintaan pasar atas donat menjadi seperti yang terlihat di Gambar permintaan pasar atas donat merupakan gabungan permintaan individu John dan Doel. Adapun kombinasi harga dan kuantitas donat yang diinginkan pasar terlihat di titik V 500, 0, W 300, 3, X 100, 6, serta Y 0, Pergeseran Kurva Permintaan. Pergeseran kurva permintaan terjadi karena adanya faktor tertentu yang mengintervensi kurva awal, seperti terlihat di Gambar yang mengakibatkan berkurangnya kuantitas barang yang ingin dibeli, akan menggeser kurva awal D1 ke D2. perubahan yang mengakibatkan meningkatnya kuantitas barang yang ingin dibeli, akan menggeser kurva D1 ke D3. Adapun faktor-faktor yang berpotensi menggeser kurva permintaan antara lain tersebut dibawah ini. Harga produk yang diinginkan. Secara umum, ketika harga suatu produk meningkat, maka permintaan akan produk tersebut cenderung mengalami penurunan; demikian juga sebaliknya, jika harga produk menurun, maka permintaan cenderung meningkat. Pendapatan income. Pendapatan adalah tambahan kemampuan ekonomis yang diperoleh individu, yang bisa dimanfaatkan untuk konsumsi atau menambah aset. Ketika pendapatan seseorang meningkat, maka konsumsi atas suatu produk cenderung meningkat, demikian juga sebaliknya dengan catatan ini terjadi pada barang normal, bukan barang inferior. Adapun perbedaan dua barang tesebut bisa digambarkan sebagai berikutBarang normal normal goods merupakan barang, dimana ketika ada peningkatan pendapatan akan memicu peningkatan permintaan atas barang tersebut, dengan asumsi faktor lain dianggap konstan. Barang inferior inferior goods adalah barang, dimana saat ada peningkatan income, justru akan menurunkan permintaan terhadap barang yang dimaksud, dengan asumsi faktor lain dianggap konstan. Perlu diingat bahwa pembandingan barang normal dengan barang inferior merupakan subjektivitas individu misalnya beras dengan singkong, beras dengan gaplek, dst. Harga produk sejenis. Misalnya terdapat kondisi dimana harga susu sapi meningkat akibat menurunnya produktivitas sapi perah, sementara harga susu kambing tetap stabil. Pada kasus seperti ini, ada kemungkinan individu mengurangi konsumsi susu sapi atau menggantinya dengan susu kambing. Dari konteks tersebut, kita bisa mengetahui adanya dua sifat barang, yakni substitusi dan komplementer. Sekarang kita umpamakan susu sapi adalah produk A, susu kambing = produk B, dan madu = produk C. Dari perumpamaan tersebut kita bisa memahami pengertian barang substitusi dan barang komplementer, sebagai berikutBarang substitusi merupakan kondisi dimana ketika harga produk A naik akan memicu kenaikan permintaan terhadap produk B; dengan asumsi produk A dan produk B merupakan barang sejenis; atau dalam bahasa sederhana disebut sebagai barang pengganti dalam kasus ini konsumsi susu sapi diganti dengan susu kambing. Barang komplementer merupakan kondisi dimana ketika harga produk A naik akan memicu kenaikan permintaan atas produk C. Pada dasarnya barang komplementer merupakan pasangan barang yang bisa dikonsumsi secara bersama-sama; atau secara sederhana disebut sebagai barang yang bersifat melengkapi dalam hal ini produk susu sapi dikonsumsi bersama madu. Selera. Selera merupakan cara pandang individu dalam mengindera produk yang tersedia. Selera yang tinggi pada suatu barang cenderung berkorelasi positif terhadap permintaan atas barang tersebut. Ekspektasi. Ekspektasi atau harapan adalah perspektif individu akan kejadian masa depan yang mampu mempengaruhi permintaan produk di masa kini. Misalnya jika seseorang mengharapkan adanya peningkatan income sebulan kedepan, maka bisa jadi ia akan melakukan konsumsi lebih banyak produk pada saat ini. 2. KONSEP PENAWARAN DAN KURVA PENAWARAN. Pengertian Penawaran. Penawaran mengindikasikan jumlah produk yang mampu dan tersedia untuk dijual oleh produsen. Disini dikenal hukum penawaran, yang menyatakan bahwa jika faktor lain dianggap konstan, maka jumlah barang yang ditawarkan akan meningkat ketika harga barang tersebut naik. Untuk memahami hal diatas, dibuatlah kurva penawaran, yakni grafik yang menghubungkan antara kuantitas dan harga barang yang ditawarkan. Kurva Penawaran. Dalam perumpamaan sederhana, misalnya terdapat penawaran jaket oleh penjual 1 Alfa, seperti terlihat di Gambar harga dan kuantitas jaket yang ditawarkan Alfa adalah titik E 10, 0, F 30, 2, atau G 50, 4. Disisi lain, terdapat juga penawaran jaket yang dilakukan oleh penjual 2 Romeo.keteranganperbandingan harga dan kuantitas jaket yang Romeo bersedia tawarkan adalah H 10, 1, I 30, 3, atau J 50, 5. Adapun kurva penawaran agregat merupakan jumlah penawaran yang dilakukan oleh seluruh penjual dalam hal ini Alfa dan Romeo, terlihat di Gambar 6. keteranganperbandingan harga dan kuantitas jaket yang ditawarkan di pasar adalah gabungan penawaran penjual Alfa dan Romeo, yakni di titik T 10, 1, U 30, 5, atau V 50, 9. Pergeseran Kurva Penawaran. Seperti pada kurva permintaan, pergeseran pada kurva penawaran terjadi karena adanya intervensi terhadap kurva yang mengakibatkan menurunnya kuantitas barang yang ditawarkan akan menggeser kurva awal S1 ke S2. perubahan yang mengakibatkan meningkatnya kuantitas barang yang ditawarkan akan menggeser kurva S1 ke S3. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran antara lain diterangkan dibawah ini. Harga Produk. Harga merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kuantitas produk yang tersedia di pasar. Harga Faktor Produksi. Besarnya harga bahan baku yang digunakan untuk produksi, ongkos tenaga kerja, serta jumlah modal, akan mempengaruhi harga jual produk jadi. Teknologi. Pada prinsipnya, teknologi akan mempercepat dan mempermudah proses produksi, sehingga mampu menekan harga produk jadi. Namun demikian, semakin canggih teknologi yang disematkan pada suatu produk, cenderung membuat harga produk tersebut semakin mahal. Ekspektasi. Seperti halnya pada pasar permintaan, ekspektasi atas pemanfaatan/konsumsi suatu produk di masa mendatang ikut mempengaruhi ketersediaan produk di pasar saat ini. Demikian penjelasan mengenai konsep permintaan dan penawaran, terbentuknya kurva permintaan dan penawaran, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kurva permintaan dan penawaran. * ReferensiMankiw, Gregory N. 2008. Principles of Microeconomics, Fifth Edition, South-Western Cengage Learning. Samuelson, Paul A., and William D. Nordhaus. 2002. Economics, Seventeenth Edition, McGraw-Hill. Materi sebelumnya Mengenal Ilmu Ekonomi Mikro dan Makro, Konsep Pasar, serta Hakikat Perdagangan Memahami Konsep Dasar Ilmu Ekonomi Materi selanjutnya Pengertian Ekuilibrium Permintaan-Penawaran, Excess Demand-Excess Supply, dan Pergeseran Kurva Konsep Elastisitas Permintaan Elasticity of Demand dan Metode Nilai Tengah Midpoint Method .